Pendudukan Belanda di Indonesia

Posted by Antonius Suranto On Thursday, 16 May 2013 0 comments


A.      Pendudukan Belanda di Indonesia
1.       Abad 15, bangsa Eropa mulai mengadakan penjelajahan samudera.
2.       Tujuannya mencari kekayaan dan kejayaan, serta menyebarkan agama Nasrani.
3.       Kebutuhan bangsa Eropa adalah rempah-rempah, yang digunakan untuk obat-obatan, penyedap makanan, dan pengawet makanan.
4.       Alasan bangsa Eropa membeli rempah-rempah di Indonesia karena mutu rempah Indonesia bagus dan harganya yang murah.
5.       Bangsa Eropa yang pernah menjajah Indonesia adalah Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris.
6.       Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun.
7.       Bangsa Belanda menuju Indonesia melalui Tanjung Harapan yang terletak di selatan Afrika.
8.       Armada Belanda mendarat di Banten pada tanggal 22 Juni 1596, setelah 14 bulan berlayar yang di pimpin oleh Cornelis de Houtman.
9.       Kedatangan Belanda tidak mendapat sambutan yang baik dari masyarakat Indonesia.
10.   Pada tahun 1598, untuk kedua kalinya armada Belanda tiba di banten.
11.   Armada ini dipimpin oleh Jacob van Neck, disusul kemudian oleh armada yang dipimpin oleh Warwijk.
12.   Pada tanggal 20 Maret 1602, Belanda mendirikan persatuan dagang yang diberi nama Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), artinya Persatuan Dagang Hindia Timur.
13.   Tujuan VOC adalah mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan jalan melawan persaiangan-persaingannya, baik dari dalam maupun dari luar negeri, seperti Portugis, Inggris, dan Spanyol.
14.   Pemerintah Belanda member hak monopoli kepada VOC, antara lain sebagai berikut:
a. Membuat perjanjian dengan raja-raja,
b.Menyatakan perang dan mengadakan perdamaian,
c. Membuat senjata dan mendirikan benteng,
d.Mencetak uang, dan
e.Mengangkat dan memberhentikan pegawai.
15.   Gubernur Jenderal VOC pertama yang berkedudukan di Ambon adalah Pieter Both.
16.   Selanjuknya adalah Jan Pieterszoon Coen segaligus memindahkan pusat VOC dari Ambon ke Jayakarta (Jakarta) pada tanggal 31 Mei 1619.
17.   Nama Jayakarta diganti menjadi Batavia.
18.   Alasan pemindahan kantor VOC adalah letak Jayakarta yang strategis bagi pelayaran perdagangan, dan Jatakarta di anggap lebih dekat dengan ke Tanjung Harapan.
19.   Sejak bermakas di Jayakarta , sikap VOC semakin kasar dan mereka mulai menjajah bangsa Indonesia. Akibatnya, timbul perlawanan di mana-mana.
20.   Menjelang abad ke-19, keadaan keuangan VOC semakin memburuk, sehingga VOC mengalami kebangkrutan.
21.   Pada tanggal 31 Desember 1799, VOC dibubarkan dan kekuasaan VOC di Indonesia diambil alih oleh Pemerintah Belanda.
22.   Pada tahun 1806, napoleon Bonaparte (Kaisar Prancis) berhasil menaklukkan Belanda.
23.   Napoleon kemudian mengubah bentuk hegara Belanda dari republik menjadi kerajaan.
24.   Napoleon mengangkat Herman Willem Daendels, sebagi persiapan diri untuk menghadapi serangan dari Inggris.
25.   Daendels memerintahkan pembuatan jalan raya dari Anyer (Banten) sampai Penarukan (Jawa Timur) untuk memperkuat pertahanan di pulau Jawa.
26.   Untuk mempercepat pembuatan jalan raya itu, Daendels memerintahkan rakyat Indonesia bekerja paksa tanpa upah yang disebut rodi.
27.   Kekejaman Daendels terhadap rakyat Indonesia akhirnya didengar Napoleon, pada tahun 1811 Daendels di panggil kembali ke Belanda dan di gantikan oleh Jansen.
28.   Pada tahun 1830, Johannes van den Bosch diangkat sebagai Gubernur Jenderal menggantikan Van Der Capellen.
29.   Tugas Johannes van den Bosch adalah mencari uang guna mengisi kekosongan kas Negara Belanda.
30.   Johannes van den Bosch memberlakukan tanam paksa atau cultuurstelsel.
31.   Pemerintah Belanda mengerahkan tenaga rakyat untuk menanam tanaman yang hasilnya dapat dijual di pasaran dunia. Misalnya: teh, kopi, tembakau, dan tebu.
32.   Tanam paksa menimbulakan penderitaan bagi rakyat, beban yang harus dialami rakyat semakin meningkat.
33.   Sebaliknya, system tanam paksa ini sangat menguntungkan bagi Belanda karena kas Negara yang tadinya kosong dapat terisi kembali.
34.   Aturan tanam paksa antara lain sebagai berikut:
a. Penduduk desa diwajibkan menyediakan 1/5 tanahnya untuk ditanami tanaman yang laku di pasaran Eropa.
b.Tanah yang dipakai untuk tanaman yang diwajibkan ini dibebaskan dari pajak tanah.
c. Hasil tanaman wajib itu harus deserahkan kepada Pemerintah Hindia Belanda.
d.Kerusakan-kerusakan yang tidak dapat dicegah oleh petani menjadi tanggungan pemerintah.
e.Pekerjaan yang dilakukan untuk menanam tanaman wajib tidak boleh melebihi pekerjaan yang diperlukan untuk menanam padi.
f.  Yang bukan petani harus bekerja 66 hari setahun bagi pemerintah Belanda.
35.   Penentang tanam paksa adalah Douwes Dekker dan Pendeta Van Houvel.
36.   Tokoh-tokoh yang melakukan perlawanan terhadap Belanda sebelum kebangkitan Nasional, yaitu :
a.    Thomas Matulessi atau Pattimura
1)      Lahirkan pada tahun 1783, di Hiria, Pulau Saparua, Maluku
2)      Pelayaran Hongi adalah pelayaran untuk mencegah perdagangan gelap dan mencegah hasil rempah-rempah yang berlebihan.
3)      Van den Berg memaksa pemuda-pemuda Maluku untuki menjadi serdadu yang dikirim ke Jawa, dan kerja rodi. Akibatnya terjadi perlawanan yang dipimpin oleh Pattimura.
4)      Pada tanggal 16 Mei 1817, di bawah pimpinan Pattimura, rakyat Maluku berhasil menyerbu Benteng Duurstede dan Van den Berg mati terbunuh.
5)      Kekalahan ini menyebabkan Belanda mengirimkan pasukan ke Maluku dan berhasil menangkap Pattimura dan para pejuang lainnya.
6)      Dalam perlawannya tersebut, Pattimura di bantu oleh : Paulus Tiahahu dan anaknya Chistina Martha Tiahahu, dan Thomas Patiwael Lucas Latumahina.
b.   Tuanku Imam Bonjol
1)      Nama aslinya ialah Peto Syarif dan dikenal dengan nama Mohammad Shahab.
2)      Lahir pada tahun 1772 di tanjung Bunga, Sumatera Barat. Karena tinggal di daerah Bonjol, maka ia disebut sebagai Imam Bonjol.
3)      Pada abad ke-19, di Minangkabau terjadi perselisihan paham antara kaum Paderi dengan kaum Adat.
4)      Kaum Paderi adalah golongan pemeluk agama Islam dan tidak dipengaruhi oleh adat kebiasaan.
5)      Kaum adat adalah golongan yang sudah memeluk agama Islam, tetapi masih banyak dipengaruhi adat kebiasaan.
6)      Tuanku Imam Bonjol muncul sebagai pemimpin kaum Paderi yang terkenal, yang mengantikan kedudukan Datuk Badaro.
7)      Kaum Adat terdesak dan pada tahun 1821 meminta bantuan kepada Belanda.
8)      Terjadilah perang antara kaum Paderi dengan Belanda, yang berlangsung pada tahun 1821-1827. Perang tersebut disebut Perang Paderi.
9)      Kaum Adat dan kaum Paderi menyadari bahwa bantuan Belanda hanya siasat adu domba.
10)   Kemudian, kaum Adat bersatu dengan Kaum Paderi dan dapat memukul mundur pasukan Belanda yang dipimpin oleh Van den Bosch.
11)   Belanda mengeluarkan pernyataan yang disebut “Plakat Panjang”, yang berisi:
a)      Tanam paksa dengan kerja bagi masyarakat Minangkabau.
b)      Kepala-kepala daerah akan digaji.
c)       Belanda akan bertindak sebagai penegah apabila terjadi perselisihan di kalangan rakyat.
12)   Pada tahun 1837, pasukan Belanda di bawah pimpinan Letnan Kolonel Michiels kembali menyerang Bonjol dan Benteng Bonjol jatuh ketangan Belanda.
13)   Pada tanggal 23 Oktober 1837, Imam Bonjol berhasil ditangkap dan ditahan, serta diasingkan ke Cianjur, kemudian ke Ambon, dan kemudian ke Manado.
14)   Imam Bonjol wafat dan dimakamkan di Desa Pineleng, Manado.
c.    Pangeran Diponegoro
1)      Beliau lahir di Yogyakarta pada tanggal 11 November 1785, putra dari Pangeran Adipati Anom (Sultan Hamengkubuwono III), dengan kecil Mas Ontowiryo.
2)      Ketegangan antara Belanda dengan Pangeran Diponegoro, terjadi karena belanda memasang patok pembuatan rel di atas tanah makam leluhur Pangeran Diponegoro tanpa izin Pangeran Diponegoro.
3)      Ketengan itu memuncak pada tanggal 20 Juli 1825.
4)      Belanda mulai membakar daerah Tegalrejo, sehingga Pangeran Diponegoro menyikir ke Bukit Selarong.
5)      Pangeran Diponegoro mendapat bantuan sepenuhnya dari Kiai Maja, Pangeran Mangkubumi, dan Sentot Ali Basyah Prawiradirja.
6)      Kiai Maja mengobarkan perang di Surakarta.
7)      Kiai Hasan Besari memimpin perang di daerah Kedu.
8)      Perlawanan yang di lakukan Pangeran Diponegoro tahun 1825-1827 menyebabkan pasukan Belanda terdesak mengalami banyak korban.
9)      Pada tahun 1827, di bawah pimpinan Van de Kock, Belanda menjalankan siasat perang benteng stelsel yaitu mendirikan benteng-benteng pertahanan di setiap wilayah kekuasaan Belanda dengan tujuan mempersempit wilayah kekuasaan Pangeran Diponegoro.
10)   Pangeran Diponegoro sulit ditaklukkan sehingga Belanda menempuh langkah licik dengan melakukan perundingan.
11)   Perundingan diselenggarakan pada tanggal 28 Maret 1830 di rumah Residen Kedu di Magelang. Jenderal Van de Kock sudah mengatur siasat untuk menangkap Pangeran Diponegoro.
12)   Pangeran Diponegoro ditangkap, kemudian dibawa ke Semarang.
13)   Setelah dibawa ke Batavia (Jakarta), Pangeran Diponegoro diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara.
14)   Pada tahun 1834, Pangeran Diponegoro dipindahkan ke Makassar dan ditahan di Benteng Fort Rotterdam.
15)   Pangeran Diponegoro meninggal dan dimakamkan di Makassar pada tanggal 8 Januari 1855.
d.   Pangeran Antasari
1)      Kerajaan Banjarmasin merupakan kerajaan makmur di Kalimantan Selatan, yang diperintah oleh Sultan Adam (1825-1857).
2)      Belanda menguasai Banjarmasin dengan mengadakan monopoli perdagangan, dan berusaha mencampuri urusan kerajaan.
3)      Rakyat menuntut agar Pangeran Hidayat diangkat menjadi sultan muda, calon pengganti raja. Sebaliknya Belanda mengangkat Tamjidillah sebagai sultan muda.
4)      Akibatnya, timbullah pemberontakan yang dipimpin oleh Pangeran Hidayat.
5)      Pada tahun 1859, di bawah pimpinan Pangeran Antasari, rakyat melanjutkan perjuangan melawan Belanda. Yang dibantu oleh kyai Demang Leman, Haji Nasrun, Haji Buyasin, dan Kiai Langlang.
6)      Pada tahun 1862, Pangeran Hidayat ditangkap Belanda dan dibuang ke Jawa menyusul tertangkapnya Kiai Demang Leman.
7)      Pada tanggal 11 Oktober 1862, Pangeran Antasari wafat terkenan penyakit cacar, dan dimakamkan di Banjarmasin.
8)      Sebagai pemimpin perang dan agama, Pangeran Antasari diberi gelar Amiruddin Khalifatul Mukminin.
e.   Perlawanan rakyat Buleleng (Ketut Gusti Jelantik)
1)      Abad ke-19, di Bali berdiri beberapa kerajaan, seperti Buleleng, Karangasem, Badung, dan Gianyar.
2)      Hukum Tawan Karang adalah hak untuk merampas muatan kapal yang terdampar atau karam di pantai wilayah kerajaannya.
3)      Pada tahun 1844, ada kapal Belanda yang terdampar di pantai Buleleng dan di kenakan Hukum Tawan Karang, Belanda tidak menerima hukuman ini.
4)      Belanda menegluarkan perintah agar Hukum Tawan Karang dihapuskan dan mengakui kekuasaan Belanda.
5)      Raja Buleleng menolak perintah Belanda dan terjadilah peperangan.
6)      Raja Buleleng dalam peperangan ini di bantu oleh patih yag bernama Ketut Guati Jelantik.
f.     Perlawanan Sisingamangaraja XII
1)      Pada tahun 1967, raja kerajaan Bakkara di daerah Tapanuli, Sumatera Utara, Sisingamangaraja XI meninggal dunia dan di gantikan oleh puteranya yang bernama Patuan Bosar Ompu Pulo Batu yang bergelar Sisingamangaraja XII.
2)      Pada masa pemerintahannya datanglah Belanda yang bermaksud menguasai wilayah Tapanuli.
3)      Sisingamangaraja XII dan rakyatnya angkat senjata dan mengadakan perlawanan terhadap Belanda.
4)      Pada tahun 1889, terjadi pertempuran yang sangat hebat di daerah Silindung Humbang dan Tobe Hulbung.
5)      Pada tahun 1907, pasukan Belanda di bawah pimpinan Cristoffel menyerang pusat pertahanan di Pak-pak.
6)      Dalam pertempuran ini Sisingamangaraja XII gugur sebagai kusuma bangsa pada tanggal 17 Juni 1907.
7)      Jenazahnya dimakamkan di Taruntung, kemudian dipindahkan ke Belige.
g.    Perlawanan Rakyat Aceh (Teunku Umar, Panglima Polim, Teuku Di Tiro, Cut Nyai Dien)
1)      Ketegangan antara Aceh dengan Belanda telah terjadi pada tahun 1858.
2)      Belanda mengadakan perjanjian dengan Sultan Siak, yang berisi Siak harus menyerahkan wilayah Deli, Serdang, Langkat, dan Asahan kepada Belanda.
3)      Pada tanggal 5 April 1873, dipimpin J.H.R. Kohler, Belanda mengerahkan 3.000 tentara.
4)      Di bawah pimpinan Jenderal J. Van Swieten dengan kekuatan 8.000 tentara menyerang kembali dan dapat merebut Istana Aceh.
5)      Rakyat aceh tetap melakukan perlawanan dan muncul tokoh tokoh seperti Teunku Umar, Panglima Polim, Teuku Di Tiro, Cut Nyai Dien.
37.   Tokoh-tokoh yang melakukan perlawanan terhadap Belanda pada era kebangkitan Nasional, yaitu :
a.    Raden Ajeng Kartini
b.   Dewi Sartika
c.    Ki Hajar Dewantoro
d.   Douwes Dekker (Dr. Danudirja Setiabudi)
e.   Haji Samanhudi
f.     Muhammad Husni Thamrin


Sumber: IPS klas V Penerbit Erlangga


0 comments to Pendudukan Belanda di Indonesia

Post a Comment